Kepercayaan Strategis dalam Kerja Sama Industri Pertahanan: Erosi, Rekalibrasi, dan Pemulihan Kepercayaan dalam Program KF-21/IF-X Indonesia–Korea Selatan

Authors

  • Seo Bokyun Magister Strategi Pertahanan Darat, Universitas Pertahanan RI Author

Keywords:

kepercayaan strategis, industri pertahanan, KF-21/IF-X, alih teknologi, diplomasi pertahanan, Indonesia–Korea Selatan

Abstract

Kerja sama industri pertahanan berteknologi tinggi bukan sekadar transaksi pengadaan, melainkan hubungan jangka panjang yang mempertukarkan modal, pengetahuan, akses teknologi, informasi sensitif, dan risiko politik. Artikel ini menganalisis mengapa kepercayaan strategis dalam kerja sama industri pertahanan Indonesia–Korea Selatan mengalami stagnasi dan bagaimana kepercayaan tersebut direkalibrasi, dengan proyek KF-21/IF-X sebagai studi kasus utama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal dan process tracing berbasis dokumen resmi, pemberitaan kredibel terkini, serta literatur jurnal nasional dan internasional. Kepercayaan dioperasionalkan melalui empat indikator perilaku: pemenuhan komitmen, keterprediksian kebijakan, integritas informasi, dan kapasitas absorpsi resiprokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stagnasi kepercayaan tidak dapat dijelaskan hanya oleh keterbatasan fiskal atau persoalan teknis, melainkan oleh erosi ekspektasi kumulatif ketika komitmen pembayaran berubah, prioritas kebijakan sulit diprediksi, dan keamanan informasi dipersoalkan. Perkembangan terbaru—pelunasan penuh kontribusi Indonesia sebesar KRW 600 miliar pada 25 Juni 2026, penghentian penyelidikan dugaan kebocoran teknologi tanpa penuntutan, penyelesaian resmi pengembangan KF-21, serta negosiasi pembelian langsung 16 unit KF-21 Block II—menandakan bahwa kerja sama tidak runtuh, tetapi mengalami rekalibrasi mendalam yang menggeser posisi Indonesia dari mitra co-development menjadi pembeli. Artikel mengembangkan konsep depth-risk paradox: semakin dalam kerja sama pertahanan, semakin besar manfaat pembelajaran dan alih teknologi, tetapi semakin luas pula permukaan risiko kepercayaan. Pemulihan membutuhkan costly reassurance, institutional predictability, information assurance, dan reciprocal absorptive capacity, dirangkum dalam model TRUST Architecture. Implikasinya, keberhasilan kerja sama pertahanan tidak boleh diukur hanya dari keberlanjutan kontrak atau penyerahan platform, melainkan dari kemampuan kedua negara mengubah kerentanan bersama menjadi aturan, kepastian, dan kapasitas teknologi yang dapat dipercaya.

Downloads

Published

2026-08-08