Analisis Elemen Peluru Kendali Iran terhadap Sistem Pertahanan Udara Israel pada Perang 12 Hari Tahun 2025
Keywords:
peluru kendali, pertahanan udara multi-lapis, taktik deception, perang asimetris, kesiapsiagaan pertahananAbstract
Perang Dua Belas Hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 menghadirkan laboratorium empiris tentang benturan antara teknologi peluru kendali ofensif dan sistem pertahanan udara defensif paling canggih di dunia. Penelitian ini bertujuan menganalisis kekuatan dan kemampuan peluru kendali Iran, kekuatan dan kemampuan sistem pertahanan udara (hanud) multi-lapis Israel, serta penggunaan taktik deception Iran dalam menembus perisai berlapis tersebut, guna menarik implikasi strategis bagi pengembangan pertahanan udara TNI Angkatan Udara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, memanfaatkan data sekunder berupa laporan lembaga kajian pertahanan internasional serta pemberitaan resmi, yang dianalisis melalui kerangka teori air power, teori pertahanan terpadu, dan teori perang asimetris, dengan instrumen analisis SWOT yang dikuantifikasi melalui Strategic Factors Analysis Summary (SFAS) dan diagram Cartesius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Israel mempertahankan tingkat intersepsi sekitar 86 persen, kombinasi serangan jenuh multi-azimuth, penggunaan decoy dan penetration aids, drone kamikaze, serta rudal hipersonik berhasil menggandakan tingkat penetrasi dari 8 persen pada fase pertama menjadi 16 persen pada fase kedua konflik. Posisi strategis terpetakan pada Kuadran II (S-T), menegaskan keunggulan kuantitatif ofensif berhadapan dengan superioritas kualitatif defensif. Implikasi penelitian menegaskan urgensi bagi TNI AU untuk membangun hanud multi-lapis terintegrasi, kemampuan kontra-deception, efisiensi biaya intersepsi melalui senjata berbasis energi, serta penguatan deterensi berbasis kemandirian industri pertahanan nasional.